Dzikru Maut ( Mengingat Kematian)

Dalam menjalani kehidupan ini manusia selalu berfikir apa yang akan dilakukan hari esok, entah bekerja, berbelanja, bermain, berwisata, dan lain-lain, tetapi pernahkah terbesit dalam pikiran kita bahwa besok kita akan mati?

Kematian adalah suatu hal yang pasti akan terjadi tetapi sering kita lupakan. Kematian menjadi hal yang sangat menakutkan bagi sebagian orang. Tetapi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita senantiasa mengingat kematian. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

Artinya: “Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yaitu : KEMATIAN
(Hadits Shahih riwayat At-Tirmidzi dan yang lainnya).

Kematian ada didekat kita. Setiap saat kita melihat sahabat, kerabat, teman dan orang yang kita sayangi dipanggil oleh Alloh lebih dahulu. Sejatinya, kita ini sedang menunggu giliran untuk kembali pada Nya. Kembali ke kampung asal yaitu akhirat, dengan melewati perjalanan panjang setelah kehidupan didunia.

Ibnu Umar RA berkata,
“Aku datang menemui Nabi Muhammad SAW bersama 10 orang, lalu salah seorang Anshar bertanya, siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia wahai Rasulullah? Nabi menjawab, orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan.”
(HR Ibnu Majah)

Kematian ada didekat kita. Setiap saat kita melihat sahabat, kerabat, teman dan orang yang kita sayangi dipanggil oleh Alloh lebih dahulu. Sejatinya, kita ini sedang menunggu giliran untuk kembali pada Nya. Kembali ke kampung asal yaitu akhirat, dengan melewati perjalanan panjang setelah kehidupan didunia.

Ibnu Umar RA berkata,
“Aku datang menemui Nabi Muhammad SAW bersama 10 orang, lalu salah seorang Anshar bertanya, siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia wahai Rasulullah? Nabi menjawab, orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan.”
(HR Ibnu Majah)

Kemarin bertepatan hari Arafah, salah seorang kerabat berpulang ke hadirat Nya tanpa sakit sebelumnya. Ketika dibangunkan untuk sahur, sudah kondisi wafat. Hari ini, ada teman kuliah yang juga berpulang dikarenakan sakit kanker. Bagaimanapun jalannya nanti, perpindahan alam dunia menuju alam akhirat sudah seharusnya itu menjadi pengingat kita untuk selalu dzikru maut. Ingin dalam keadaan bagaimana kita nanti ketika meninggal?

💭💭

Bagi beberapa orang yang diberikan karamah, bahkan mempersiapkan kematiannya sendiri. Seperti yang sedang viral seorang pemudah hafidz Qur’an di Makasar, malam idul adha kmrn meninggal karena kecelakaan dan terseret truk. Kemudian ditemukan di tas nya sudah siap kain kafan.

Almarhum ayah saya juga menyiapkan kain ihramnya sejak sepekan sebelum meninggal. Kain yang biasa disimpan di almari, sudah dikeluarkan dan disiapkan diruang tamu. Yang kain ihram itu untuk penutup jenazah setelah ayah saya wafat. Mungkin tidak sengaja bagi penglihatan jasad kita, namun ruh-ruh orang yang akan meninggal telah bisa merasakan. Dan masih banyak lagi kisah tentang orang2 yang sudah siap dengan kematiannya.
Apakah hati kita akan peka terhadap tanda2 yang Alloh berikan? Jika kita masih suka bermaksiat, masih disibukkan oleh dunia dan keras hati tanpa pernah mengingat kematian, mungkin tidak akan bisa merasakan firasat2 itu.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al Qur’an yang artinya:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
(QS. Ali Imran: 185)

Dalam suatu kisah..

Seorang pemimpin besar, khalifah yang luar biasa, Umar bin Abdul Aziz rahimahullah ta’ala beliau mempunyai kebiasaan yang unik yang mungkin kita boleh berandai. Andai ini dilakukan oleh para pemimpin hari ini, Umar bin Abdul Aziz rahimahullah ta’ala bahkan boleh dibilang setiap malam atau setiap ada kesempatan di malam hari, diundanglah para fuqaha, para ahli ilmu, dikumpulkan mereka para ahli Ilmu yang luar biasa itu. Fungsinya di malam hari itu untuk bicara tentang kematian, mengingatkan diri tentang akhirat kemudian malam itu mereka menangis bersama-sama seperti menangisi jenazah yang ada didepannya padahal tidak ada jenazah.

Maka mengingat kematian, takut kepada Allah dan hari akhir itu merupakan modal penting seperti yang dilakukan Umar bin Abdul Aziz rahimahullah ta’ala bahkan seperti sahabat mulia Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ketika setiap melihat ada jenazah yang lewat maka Abu Hurairah berkata
“Berangkatlah saudaraku, sesungguhnya kami sebentar lagi akan menyusulmu.”

jika setiap orang bahkan juga pemimpin selalu mengingat bahwa kelak dirinya akan mati. Maka niscaya, kedzaliman2 yang sedang terjadi akan sirna, karena ada rasa takut akan tanggungjawab akhirat…

Sekitar 3 tahun yang lalu saya mengikuti MABIT ( malam bina iman & taqwa ) di suatu pondok. Disitu yang ceramah teh Ninih Muthmainah tentang dzikrumaut. Dalam aula yang dimatikan lampunya sehingga gelap gulita, mata ditutup kain, kita semua bermuhasabah tentang kematian. Sampai menangis mengingat bahwa hal itu pasti terjadi, sedangkan argo dosa masih berjalan terus. Teh Ninih terus mengingatkan tentang hal2 kematian. dan masih suasana gelap penutup mata dibuka, didepan kami sudah diletakkan papan nama kematian kami dengan tanggal kematian masih kosong, beserta potongan kain kafan. Tentu saja jadi makin nangis dan kaget…seakan nyata.
Hingga saat ini, papan itu masih saya simpan untuk pengingat diri. 😢
Bukan untuk jimat ya…😉😉

Al Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan bahwa barangsiapa yang mengingat kematian maka Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan tiga keistimewaan:

1. Ta’jilut Taubah yang berarti mempercepat taubat, dengan mengingat kematian akan membuat seseorang cepat bertaubat setiap kali berbuat salah.

2. Qana’atul Qalbi ini berarti hati yang selalu lapang dan menerima apapun yang Allah berikan, mengingat mati membuat seseorang jauh dari sifat tamak sehingga akan selalu bersyukur atas apapun yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya.

3. Nas’atul Ibadah yang artinya rajin beribadah, seseorang yang selalu ingat kematian akan datang kapan saja kepadanya maka akan rajin beribadah tentu saja sebagai bekal untuk hidup yang kekal dan abadi di akhirat.

Ada banyak cara mudah bagi kita untuk mengingat mati diantaranya:

1. Mulai dari membantu mengurus jenazah hingga mengantarkan ke pemakaman, kegiatan ini menjadi pengingat yang akan selalu terekam dalam pikiran kita.

2. Merenungi kehidupan di alam kubur, tidak ada lagi yang menemani sekalipun itu pasangan yang paling kita cintai atau keluarga yang paling kita sayangi.

3. Berziarah kubur, awal Islam ada kegiatan ini memang dilarang karena kaum Jahiliyah masih menyembah benda-benda termasuk menyembah kuburan, namun setelah iman sudah kokoh dan kuat kemudian Nabi membolehkan berziarah kubur semata-mata sebagai cara agar manusia mengingat tempatnya kembali sehingga akan berlomba-lomba beramal shalih.

Semoga kita termasuk orang yang selalu dzikru maut. Sehingga waspada terhadap tipuan dunia dan lembut hati dengan mengingat akhirat…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *