Cahaya di Ujung Senja (Story of Siti Umayyah)

 

Assalamualaikum WR.WB…

Sahabat MiC yang disayangi Alloh, ijinkan hari ini saya sharing kisah perjalanan hidup yang berliku jatuh bangun hingga akhirnya menemukan hikmah dari semua itu..

Perkenalkan nama saya Siti Umayyah dari Balikpapan, walaupun lebih dikenal dengan Siti Fara karena ini pun ada ceritanya. Nanti akan menjadi bagian dari kisah saya..

Saya ibu dengan satu putra yang sudah dewasa, suami bekerja sebagai kontraktor dan orangnya sangat sabar dan penyayang. Kehidupan saya baik-baik saja, sampai akhirnya kisah dimulai saat saya mencoba berbisnis.

Sepulang dari Jawa karena saya asli dari Jawa Timur, saya menawarkan mukena ke pasar di Balikpapan. Karena melihat adik berbisnis konveksi mukena saja bisa mengirimkan pesanan sampai ke luar negeri dengan omset yang sangat WOW. Jadi seketika saya tertarik untuk ikut memasarkannya di Kalimantan.

Ketika saya tawarkan ke sebuah toko si pemilik toko bilang,”Ada JILBAB jugakah?” Kemudian saya tanyakan seperti apa model yang diinginkan, kemudian dia kasih contohnya. Saya carikan pesanan jilbabnya di Jawa dengan perjanjian akan dibayar tempo sepekan. Tapi ternyata sampai 3 bulan baru dibayarkan 20%-nya. Padahal sisa barang tinggal dikit akhirnya saya jual sendiri di pasar, meski sebelumnya tidak pernah terbayang akan terjun di pasar tradisional. Dengan malu-malu saya numpang sana sini karena belum punya kios.

Lama-lama ada yang pesan model-model lain dan langganan makin banyak, saya sewa kios kecil ukuran 3×3, makin berkembang kemudian saya sewa ruko dan alhamdulillah bisnis laris. Karena ruko saya bersih maka sering pedagang lain ikut duduk di kios sambil berhitung laba jualannya. Mereka pedagang sayuran dan juga bumbu rempah-rempah.

Nah disini saya tertarik, kok modal segitu aja jam 10 pagi udah dapat uang sekian. Lebih enak dong, sedangkan saya yang dengan ruko dan modal besar, juga anak buah banyak baru dapat segini. Saya bilang ke temen pedagang tadi,”Gimana ya kalo aku jual bumbu sayur sembako seperti kalian ?”. Teman pedagang langsung menanggapi,”Udah besok ambil barang dagangan ditempatku aja, yang laku dibayar, sisanya dikembalikan”.

Mulailah saya sewa kios lain untuk jualan sembako, sayuran dan bumbu. Hari demi hari, bulan ganti bulan jualannya banyak langganan dari catering, rumah makan, hotel, perusahaan. Bahkan juragan sayur yang dulu jadi tempat kulakan sampai kalah.

Untuk standar orang yang jualan di pasar tradisional, tapi saya juga bisa melayani perusahaan-perusahaan besar dengan cash. Waktu itu omset makin banyak dari dua ruko pakaian dan sembako, sedangkan suami adalah pemborong yang juga beli aset dimana-mana.

Suatu saat ada bos yang sering pinjam uang, awalnya Rp 10 juta dia kembalikan dalam 2 pekan menjadi Rp 12 juta, dia sendiri yang tambahkan tanpa saya minta kelebihan pinjaman. Lama-lama bertambah pinjamannya sampai Rp 150 juta, saya percaya karena saya tahu dia bos besar. Sampai pada akhirnya sertifikat ruko dipinjam pula, dimasukkan ke bank olehnya. Laku Rp 1,3 milyar dipakai oleh bos itu. Saya dan suami tidak pernah curiga karena kami juga jarang bohong.

Dari pinjaman ini pada angsuran ke-3 saja si bos udah tidak bisa bayar. Karena bangkrut kapal barangnya tenggelam. Akhirnya saya yang ditakut-takuti oleh pihak bank karena jaminan atas nama saya, tapi yang pakai teman saya yang bos tadi. Akhirnya saya juga yang harus membayarnya. Oooh.. kagetnya! Saya tidak pernah berhutang kok harus bayar cicilan perbulannya Rp 50 juta.

Akhirnya saya berpikir apa lagi yang bisa dikembangkan untuk menyelamatkan aset saya. Kemudian ada teman yang kasih saran untuk mengembangkan usaha lagi berupa menyalurkan pinjaman dan investasi. Karena untuk memulai bisnis ini dibutuhkan modal besar, maka saya masukkan sertifikat lagi. Pinjaman atas nama sendiri dan cair. Alih-alih bisa memberikan hasil, malah usaha dijalankan tidak seperti yang diharapkan. Banyak yang macet pengembaliannya. Waktu itu saya belum tahu tentang ilmu riba jadi makin pusing dengan banyaknya cicilan yang harus dibayar ke bank.

Disaat sedang galau berat, seorang teman menyarankan untuk ikut seminar dengan jaminan bisa bangkit lagi. Dengan keyakinan penuh, saya ikut seminar itu. Yang ternyata dalam seminar itu diajari bagaimana memperoleh kredit bank untuk modal dengan berbagai cara. Mulai KTA, kartu kredit, agunan, dan lain-lain.

Mulai aset-aset saya masukkan lagi untuk membuka rumah makan dan futsal. Bahkan masih membangun tempat futsal butuh waktu 3 bulan, cicilan bank sudah harus dibayar pada bulan pertama.

Kebayang ‘kan, sahabat semua, bagaimana kondisi hidup saya dari hari ke hari, dipenuhi dengan tagihan dan putar otak untuk bayar cicilan. Terjebak pada kondisi gali lobang tutup lobang.

Masih belum kapok, saya sampai ganti identitas untuk bisa dapat pinjaman lagi. Nama saya SITI UMAYYA diubah di KTP baru menjadi SITI FARA. Ini hasil dari ikut seminar memperbanyak hutang, dikasih berbagai cara goal ke bank. Semua aset sudah masuk bank, hanya untuk membayar tunggakan cicilan. Usaha berantakan semua, hutang bunga berbunga, take over tidak mencukupi untuk bayar, benar-benar BANGKRUT!

Tiap hari didatangi Debt Collector, siang malam dicari orang-orang yang nagih. Sampai pada puncaknya saya sudah tidak tahan dengan hidup yang seperti ini.

Mengikuti bisikan syetan dengan mencoba bunuh diri dengan minum obat, tapi gagal karena hanya pingsan dan ketahuan sama anak saya, lalu dibawa ke rumah sakit.

Yang kedua kalinya saya mencoba lagi dengan menabrakkan mobil ke truk, tapi Alloh masih inginkan saya hidup untuk bertaubat. Bukan saya yang celaka, namun malah orang lain jadi korban. Karena saya sudah malu dengan kejadian ini, dan sepertinya semua orang jadi memusuhi saya.

Betul-betul dunia gelap, bingung, marah, sakit hati dan ngga kuat, akhirnya saya melarikan diri ke Sulawesi, tepatnya kota PALU.

Saya pergi ke PALU meninggalkan suami dan anak untuk mencari orang yang pernah menipu saya Rp 500 juta, berharap dapat uang untuk sedikit modal.

Namun yang terjadi ketika orangnya sudah saya temukan, sampai di rumahnya tak serupiah pun dibayar. Dia punya usaha laundry. Untuk menyambung hidup di kota Palu, saya pun ikut dia jadi tukang cucinya. Dibayar seribu rupiah per kilonya sambil menunggu proyek dia selesai dan bisa bayar hutangnya. Tapi sampai 7 bulan saya tunggu tak juga dibayarkan hutangnya.

Jadilah saya ini pembantunya, dari habis subuh mencuci, buka kantor, bersih-bersih, cuci piring, masak, sambil cuci baju sampai jam 11 malam.  Tidak hanya sampai disitu, dia juga punya anak bisu tuli umur 14 tahun yang sangat nakal, kadang saya diludahi, ditempeleng, ditendang sama yang bisu. Ya Alloh.., benar-benar dunia menjadi sangat kejam dan tidak pernah saya bayangkan.

Pahitnya hidup, tiap hari air mata mengalir, tak bisa pulang ke Kalimantan karena saya melarikan diri dari debt collector dan penagih-penagih. Akhirnya yang menghadapi mereka adalah suami saya yang sangat sabar. Beliau menemui penagih-penagih, ikhlas dengan perbuatan saya yang juga menghabiskan asetnya. Berawal dari hutang Rp 1,3 M lanjut dengan hutang lain-lainnya menjadikan aset Rp 30 M menjadi HABIS.

Sadar di Palu saya hanya diperalat dan hanya dikasih janji, akhirnya saya balik ke Kalimantan bersama suami dengan rasa takut. Jadi sampai rumah aku tidak pernah keluar rumah. Pokoknya kalo suami dan anakku udah berangkat kerja, pintu rumah jendela saya kunci, pintu pagar digembok supaya kelihatan nggak ada orang. Tidak berani keluar sama sekali. Tapi untung saya punya tetangga baik-baik, kalo ada orang cari bilang nggak ada orangnya, padahal saya sembunyi di dalam rumah.

Karena dari Palu saya udah belajar internet, saya mulai jual beli di internet dan bisa cari duit dikit-dikit, terus saya pasarkan pekerjaan suamiku. Mulai dapat proyek kecil-kecil, terus saya sedekah tiap hari, mulai membuka kantor tersembunyi, lama-lama makin banyak proyek. Titik awal kebangkitan hidup kami pada lebaran 7 hari tahun 2017.

Suami dapat proyek Rp 1,5 M bersamaan di 3 tempat. Jadi 1 tahun hampir Rp 5 M proyek diterima.

Alhamdulilah semua cerita kelam sudah selesai, tidak ada yang nagih, tidak ada yang marah- marah lagi. PRINSIP SAYA SEKARANG TIDAK MAU HUTANG DAN TIDAK MAU JUGA MEMBERIKAN HUTANG. Jadi uang yang ada itu diputar-putar untuk modal.

Sedikit cerita tentang keajaiban sedekah..

Jam 3 malam saya bangun sholat tahajud lanjut berangkat ke masjid, nunggu adzan subuh sambil membawa uang infak. Tiap hari saya haruskan dalam diri ini untuk sedekah subuh.

Pernah di bulan puasa uang masih sedikit karena untuk modal proyek ratusan juta dan untungnya juga masih dikit. Di bulan puasa saya cuma punya uang Rp 20 ribu dan sepotong tempe. Tapi karena keyakinan saya yang kuat, bahwa Alloh akan membayar semua penderitaan saya, jadi uang Rp 20 ribu satu-satunya saya infakkan dan kami berbuka sampai sahur hanya dengan sepotong tempe. Tapi tidak nangis, tidak mengeluh. Bahagia gitu…

Nah setelah puasa itu lebaran 7 hari saya dapat proyek yang wow fantastis. Ceritanya waktu lebaran kami silaturahmi ke teman yang baik dan lebih tua. Disitu bertemu dengan bos lama yang sama-sama silaturahmi, padahal saya malu sekali karena saya datang hanya naik motor tua, sedang tamu lain pada bermobil.

Cerita sana sini, dia mau bikin mini hotel. Suamiku ditawarin dan mau, tapi kita terus terang tidak ada modal jadi setelah tanda tangan SPK, kami minta DP 20% dari nilai kontrak Rp 1,5 M yaitu Rp 300 juta. SUBHANALOH YA ALLOH, tanpa proses yang ribet, disetujui! Suamiku peluk dia sambil nangis, Ya Alloh masih ada orang yang percaya sama kita dengan kondisi seperti saat ini.

ALHAMDULILAH dalam waktu 2 tahun ini satu persatu aset kembali dengan cara yang di luar akal kita. Dan usaha suami lancar, bisnis jalan tanpa perlu ngoyo dalam mengelolanya. Tawaran proyek terus berdatangan jauh berbeda dengan kondisi ketika saya masih mengandalkan akal dalam berbisnis.

Sekian sharing dari saya, semoga sahabat semua bisa mengambil hikmah dari perjalanan hidup tanpa harus menjalani seperti yang saya alami. Saling mendoakan semoga kita semua di grup ini diampuni dosa-dosanya oleh Alloh SWT dan memperoleh keberkahan hidup. Amin ya Robbal Alamin

Wassalamualaikum WR.WB.

based on True Story by Siti Umayya (Member of Muslimah in Circle Community)

Seorang ibu bekerja dari rumah, penggiat syiar muslimah, membina majelis taklim. Berkonsentrasi pada edukasi muslimah secara online.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kajian Terbaru:

Arsip

Kategori